Munculnya El Nino hingga Pola Siklonik, Petani di Jawa Timur Alami Dampak Signifikan Terhadap Produktivitas Pertanian Akibat Perubahan Iklim
GRESIK - Perubahan iklim yang ditandai dengan curah hujan tinggi di beberapa wilayah Indonesia khususnya Jawa Timur selama 1 tahun terakhir menyebabkan masa panen petani menjadi bergeser akibat kekurangan air.
Salah satu petani di Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Lasimah (58), mengaku bahwa belum pernah panen dalam jangka waktu ini karena adanya kemarau panjang yang menyebabkan tanaman padinya kekurangan air dan tidak dapat tumbuh dengan subur seperti biasanya.
Apalagi pertanian di daerah Wringinanom dan sekitarnya merupakan jenis sawah tadah hujan yang sistem perairannya sangat bergantung pada curah hujan dan sering mengalami risiko kekeringan pada musim kemarau.
"Adanya kemarau panjang seperti saat ini menyebabkan sering terjadi kekeringan, maka bisa diperkirakan kalau masa panennya bergeser menjadi lebih lama dari biasanya. Biasanya saya bisa panen dalam jangka waktu 3 bulan. Tapi sekarang saya belum bisa panen dalam jangka waktu itu dan harus menunggu lebih lama lagi," ungkap Lasimah.
Lasimah juga menambahkan bahwa hasil panen padi dari sawahnya yang berukuran 30 m x 20 m tersebut normalnya mencapai 412,5 kg. Namun, dengan adanya kendala kekeringan akibat kemarau panjang, produktivitas tanaman padi menurun sehingga menghasilkan kualitas padi yang buruk. Hal tersebut mengakibatkan hasil panen berkurang sehingga meminimalisir jumlah beras untuk didistribusikan sebagai bahan pangan.
Untuk menanggulangi kendala kekeringan akibat kemarau panjang tersebut, Lasimah sebagai petani sawah tadah hujan mengupayakan strategi pengaliran air menggunakan diesel yang berbahan bakar bensin dengan membuat sumur buatan melalui proses pengeboran tanah sehingga dapat tetap menjaga kualitas pertumbuhan padi yang baik dan subur.
“Saya biasanya menggunakan diesel yang pakai bensin untuk mengaliri sawah. Tapi ada juga yang memakai diesel dengan menggunakan elpiji, seperti petani lahan sebelah. Hasilnya cukup bagus. Mereka biasanya ke sawah membawa motor gerobak. Tapi tentunya membutuhkan biaya yang lebih mahal,” jelas Lasimah.
Pengaliran sawah menggunakan diesel memang dapat menjadi alternatif dalam mencegah kekeringan tanaman padi, namun hal tersebut menjadikan biaya pengeluaran petani lebih banyak sehingga dapat meminimalisir keuntungan jika dibandingkan dengan kondisi iklim yang normal.
PMG pertama bagian analisa dan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Iklim Jawa Timur, Andang Kurniawan, menyebutkan bahwa fenomena iklim berbeda yang terjadi pada tahun ini disebut dengan El Nino.
"Kondisinya sudah menunjukkan bahwa sekarang berada pada kategori El Nino kuat. El Nino ini mengakibatkan musim hujan yang seharusnya datang menjadi mundur," jelasnya.
Walaupun Jawa Timur pernah diguyur hujan deras pada bulan Oktober 2023, Andang menepis bahwa penyebabnya bukanlah angin monsun yang seharusnya menjadi faktor turunnya hujan. Namun, karena akibat dari sebuah gelombang atmosfer yang disebut Madden Julian Oscillation (MJO).
"Gelombang itu telah lewat dan menuju Pasifik sehingga dampak kering dari El Nino kembali lagi," tambahnya.
Tidak hanya itu, adanya pola siklonik di belahan bumi utara yang mengakibatkan telat masuknya uap air ke wilayah juga menjadi salah satu faktor mundurnya musim hujan.
"Sekali lagi, hal ini diakibatkan karena adanya gangguan di atmosfer," tegasnya.
Oleh : Alya Nasyanur Fauzia


Komentar
Posting Komentar